Generasi Job-Maker

Pola pikir mayoritas anak muda pada masa sekarang ini, meskipun belum semuanya, sudah mengalami kemajuan yang cukup pesat. Gaya pandang mereka terhadap dunia juga sudah sangat berbeda jika dibandingkan dengan anak-anak muda berpuluh-puluh tahun yang lalu. Di dalam abad ke-21 ini, mayoritas anak-anak mudanya sudah tidak lagi hanya berorientasi sebagai ‘job-seeker’, tetapi sudah lebih berfokus sebagai ‘job-maker’.

Generasi Job Maker

Tapi sebenarnya, gimana sih cara untuk memulai bisnis itu? Pertanyaan ini kerap masih menjadi pertanyaan klasik anak-anak muda yang sudah berorientasi sebagai job-maker. Mereka sudah memiliki semangat untuk memulai bisnis, tetapi masih belum tahu bagaimana caranya. Mereka masih merasa samar mengenai langkah apa yang harus diambil.

Sebagai seorang mahasiswa yang juga baru saja terjun ke dalam dunia bisnis, saya merangkum sebuah jawaban sederhana terhadap pertanyaan tersebut: “Caranya SANGAT MUDAH!”

Ya, sangat mudah! Asalkan kita memiliki sesuatu untuk dijual, kita sudah bisa dengan sangat mudah menjadi seorang pebisnis. SANGAT MUDAH. Tempatkan sebuah papan yang bertuliskan ‘Rumah ini Dijual’ di depan rumah kita, maka pada saat itu juga kita sudah mulai menjadi seorang pebisnis. Kira-kira semudah itulah cara memulai sebuah bisnis.

Memastikan bahwa bisnis kita dapat bertahan dan berkembanglah yang menjadi isu penting dalam dunia bisnis. Dan untuk mencapai semua ini, perencanaan adalah kuncinya. Tapi sekali lagi perlu kita tegaskan, semua ini juga akan menjadi sangat mudah kita jalani bila kita mengetahui langkah-langkahnya.  Baca lebih lanjut

Iklan

Sapi Ungu

“Mama, mama, lihat! Lihat! Ada sapi, Ma! Besar ya, Ma.” Kata Aldo yang sedang duduk di dalam mobil ketika sedang dalam perjalanan ke suatu tempat wisata.

“Oh, iya Aldo, tadi Mama nampak kok,” jawab Mamanya dengan raut wajah tidak tertarik, “Itu hanya ‘sapi biasa’ aja kok, Do. Tidak ada yang menarik. Lebih bagus kamu istirahat aja di dalam mobil, tidur sejenak. Kita 2 jam lagi baru nyampe.”

“Iya deh, Ma.” jawab Aldo, “tapi kalau nanti Mama lihat sapi yang warna lain seperti warna ungu, Mama bangunin Aldo ya, Ma.” Mama Aldo pun bingung dengan perkataan Aldo. Namun ia hanya mengiyakannya agar anaknya segera istirahat sampai mereka tiba di tempat wisata tujuan mereka.

Dari cerita di atas, mungkin pembaca akan bingung. Lho? Kok sapi ungu? Bukannya sapi hanya berwarna coklat atau hitam dan putih saja,ya?? Kenapa Aldo tidak minta dibangunkan kalau ada sapi coklat?

Baca lebih lanjut

Maju atau Mundur ?

Seperti kata pepatah, jika Anda tidak pernah gagal, berarti Anda tidak akan pernah sukses. Berapa kalikah Anda gagal untuk mencapai sebuah tujuan? Misalnya, ketika Anda masih bayi, berapa kalikah Anda terjatuh sebelum Anda benar-benar bisa berjalan? Atau ketika Anda duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, ketika pertama sekali Anda memegang sebuah pensil, berapa kalikah Anda menghapus tulisan Anda agar dapat menulis sebuah abjad atau angka?

Dan sekarang, berapa kalikah Anda gagal sebelum apa yang Anda inginkan menjadi milik Anda?

Pernahkah Anda berpikir, apa yang membuat Anda menjadi “Anda hari ini”? Betapa banyak kegagalan yang telah Anda alami tetapi Anda masih tetap berjuang sampai saat ini. Akan tetapi, di sisi lain, masih ada sebagian orang yang telah mengalami kegagalan justru lebih memilih untuk berhenti berjuang dan takut akan kegagalan jika dia bertindak lagi, takut jika dia akan terjatuh untuk kesekian kalinya.

Baca lebih lanjut

Mission and Vision

Mungkin kita, khalayak umum, telah sering mendengarkan kedua kata itu didengungkan oleh banyak pihak, seperti oleh para motivator, pemimpin atau calon pemimpin, ataupun oleh teman-teman kita. Mari kita coba lihat terlebih dahulu pengertian visi dan misi itu sendiri.

–          Visi adalah sebuah gambaran mengenai tujuan dan cita-cita di masa depan yang harus dimiliki organisasi sebelum disusun rencana bagaimana mencapainya.

–          Misi adalah bagaimana untuk menghadirkan impian tadi menjadi kenyataan.

Mungkin terdapat banyak definisi atau pengertian lain tentang visi dan misi yang dikemukakan oleh berbagai tokoh, namun pada dasarnya semua definisi tersebut memiliki makna dan inti yang sama saja. Satu hal yang perlu diingat, setiap manusia yang telah dilahirkan dan telah mampu berpikir pasti telah memiliki visi dan misi mereka sendiri. Walaupun istilah ataupun cara pemikiran yang ada dalam pikiran setiap orang mengenai visi dan misi tentu berbeda-beda. Bahkan anak-anak yang masih berusia di bawah 10 tahun sendiri telah memiliki visi mereka sendiri, yang biasa mereka sebut sebagai “cita-cita di masa depan.”

Jadi, secara tidak kita sadari, sejak kecil kita telah memiliki visi kita sendiri. Walaupun pada saat itu tentu kita belum mengenal istilah visi. Namun, pasti saat itu kita tentu belum memikirkan tentang bagimana cara untuk mewujudkan visa kita itu sendiri, yang kemudian akan kita sebut sebagai misi. Seiring bertambahnya usia, manusia pasti akan memikirkan tentang bagaimana cara untuk mewujudkan visi mereka itu sendiri (misi). Karena tidak mungkin visi kita dapat terwujud dengan sendirinya, tanpa ada usaha atau daya upaya.

Baca lebih lanjut

“Waktu adalah Uang”

Frase di atas tentu merupakan frase atau kata mutiara yang sudah sering kita dengarkan di mana saja, kapan saja, dan dari siapa saja. Namun kemudian timbul pertanyaan, “Bagaimana waktu yang merupakan suatu hal yang abstrak bisa sama dengan uang, yang tentu saja bersifat nyata dan materiil?”

Namun sebenarnya, frase anonim tentang waktu (time) tersebut sebenarnya hanyalah untuk menggambarkan dan mendeskripsikan secara singkat betapa penting dan berharganya sang waktu. Kalau kita bertanya pada tokoh-tokoh yang terkemuka dan sukses, pasti jawaban mereka kurang lebih akan mirip dengan frase di atas tersebut.

–          Bill Gates, pendiri Microsoft, bisa menghasilkan $ 250 atau Rp. 2.250.000,00 ($ 1 = Rp. 9.000) setiap detiknya.

–          Perusahaan Google bisa menghasilkan $ 920 atau Rp. 8.280.000.00 ($ 1 = Rp. 9.000) setiap detiknya.

–          Usain Bolt berhasil memecahkan rekor dunia untuk pertama kalinya dalam lomba lari nomor 100 m, setelah mencatat waktu 9.72 detik, hanya berselisih 0.02 detik dari rekor lama yang dipegang oleh Asafa Powell.

Dari tiga contoh fakta di atas saja, kita sudah dapat mengetahui seberapa pentingnya waktu 1 detik saja bagi tokoh-tokoh tersebut, baik dalam bidang olahraga maupun wirausahawan.

Namun, pada faktanya kita (termasuk saya) sering kali menyia-yiakan waktu untuk hal-hal yang tak berguna. Bahkan kita sering lalai dalam penggunaan waktu kita. Oleh karena itu, kita perlu melakukan manajemen waktu (Time Management).

Baca lebih lanjut

24 Jam Sehari! Cukupkah?

Apakah Anda seorang ayah yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan anak dan istri anda? Atau mungkin Anda adalah seorang ibu rumah tangga dan sekaligus wanita karir? Atau mungkin Anda adalah seorang mahasiswa yang harus kuliah, banyak tugas, ikut berorganisasi, kerja paruh waktu sambil mencari seorang pendamping hidup (pacar)? Atau mungkin Anda adalah seorang pelajar yang mempunyai target juara pertama di kelas, ikut bimbingan belajar, ikut les musik atau les Bahasa Inggris atau Mandarin?

Apapun profesi atau pekerjaan anda saat ini, apakah Anda merasa 24 jam sehari itu cukup untuk istirahat, untuk keluarga dan orang di sekitar Anda, maupun untuk aktivitas lainnya? Atau mungkin 24 jam sehari itu terlalu lama atau sangat kurang sehingga anda lalai dalam beberapa hal atau mungkin menjadi jenuh karena 24 jam itu seperti 24 abad? Pernahkah Anda berpikir kenapa hal itu terjadi pada Anda? Kenapa sebagian orang mampu memanfaatkan 24 jam sehari secara baik dan bermanfaat? Jika orang lain mampu kenapa kita tidak?

Inilah beberapa tips yang dapat kita terapkan untuk mengatur waktu 24 jam yang kita miliki dalam sehari dengan lebih efektif :

Baca lebih lanjut

Prioritas !

Pernahkah kita berharap ingin memiliki lebih banyak waktu dalam satu hari? Apakah lembur menjadi hal biasa bagi kita? Pernahkah kita berharap memiliki waktu lebih untuk melakukan hal-hal yang kita inginkan? Terkadang kita merasa kesal dan merasa bersalah karena tidak punya cukup waktu untuk diluangkan kepada keluarga.

Jangan khawatir. Ada solusi untuk masalah ini, dan itu jauh lebih mudah daripada yang kita bayangkan. Hanya membutuhkan penyesuaian diri dalam menggunakan waktu kita sebaik mungkin. Bukan hanya mengatur waktu kita secara efektif dan efisien, namun solusi ini dapat mengubah hidup kita menjadi lebih baik.

Pertama, ada 24 jam per hari. Ini adalah fakta dan kita tidak bisa mengubahnya menjadi 23 jam atau 25 jam per hari. Yang ada adalah kita yang mengatur waktu kita sendiri. Ini adalah langkah awal dimana kita membedakan mana hal yang penting dan mana hal yang darurat. Ada 4 hal yang harus diperhatikan dalam mengatur waktu, yaitu :

Baca lebih lanjut

Time Management

Oke! Selamat pagi! What are you doing today? Berapa kegiatan yang sudah anda rencanakan hari ini? Dan sudah berapa yang anda kerjakan? Dari judul di atas, mungkin terbayang di benak anda bahwa kita akan membahas bagaimana membuat tabel-tabeljadwal dalam sehari yang harus anda tuntaskan, apapun yang terjadi. Tapi tidak, bukan itu. Saya yakin permasalahan utama dalam menyusun jadwal bukanlah penentuan interval waktu yang diperlukan untuk setiap goal anda sehari-hari. Semua orang bisa melakukannya dengan cukup baik, asalkan ada ketekunan untuk benar-benar melaksanakannya. Benar ‘kan?

Kita hidup dalam dunia yang penuh hiruk pikuk. Di era globalisasi seperti sekarang ini, segala hal seolah menuntut untuk diselesaikan saat ini juga. Kita berlomba, menjadi yang lebih baik, bahkan yang terbaik di bidangnya. Akan tetapi seringkali bahkan setelah kita menyelesaikan impian-impian kecil kita, kebahagiaan itu tidak bertahan lama, karena tuntutan lain datang menghampiri, lebih besar, lebih menantang untuk ditaklukkan. Kita lalu berlari lagi, mengabaikan hal-hal kecil yang mungkin menurut kita bisa ditunda deadline-nya. Manisnya keberhasilan sekian waktu, sebandingkah dengan usaha kita yang makan waktu berpuluh-kali lipat dari itu?

Baca lebih lanjut