Hidup BUKAN Pilihan !

Sebagian besar dari kita selalu mengatakan bahwa hidup adalah pilihan. Hidupku adalah pilihanku sendiri, bukan orang lain. Tapi coba kita gali lagi lebih dalam, apakah benar hidup kita itu sepenuhnya merupakan pilihan kita?

Hidup seseorang berawal dari ia lahir ke dunia ini, lahir dari rahim seorang ibu, membawa status sebagai seorang bayi. Bayi yang kecil,mungil, dan lucu. Ingatkah Anda saat Anda mengalami masa – masa seperti itu? Masa – masa dimana Anda terlahir menjadi seorang bayi? Apakah terlahir menjadi seorang bayi merupakan “Pilihan” Anda? Coba renungkan baik – baik.

Ada terlahir dari latar belakang keluarga yang berbeda – beda. Ada yang terlahir di dalam keluarga yang bahagia, berlatar belakang pendidikan yang tinggi, dihormati dan disegani oleh masyarakat. Ada pula yang terlahir di keluarga yang biasa – biasa saja, dan ada juga yang terlahir di keluarga miskin yang tinggal di rumah kecil , kumuh, memiliki keluarga yang berlatar belakang pendidikan rendah yang  pekerjaannya hanya cukup untuk memberi makan dirnya dan keluarganya saja. Semuanya pas – pasan. Tidak ada yang tersisa.

Apakah itu pilihan? Terlahir sebagai orang kaya? Orang miskin? Anak seorang pejabat? Pewaris tunggal di sebuah kerajaan? Baca lebih lanjut

Iklan

Generasi Job-Maker

Pola pikir mayoritas anak muda pada masa sekarang ini, meskipun belum semuanya, sudah mengalami kemajuan yang cukup pesat. Gaya pandang mereka terhadap dunia juga sudah sangat berbeda jika dibandingkan dengan anak-anak muda berpuluh-puluh tahun yang lalu. Di dalam abad ke-21 ini, mayoritas anak-anak mudanya sudah tidak lagi hanya berorientasi sebagai ‘job-seeker’, tetapi sudah lebih berfokus sebagai ‘job-maker’.

Generasi Job Maker

Tapi sebenarnya, gimana sih cara untuk memulai bisnis itu? Pertanyaan ini kerap masih menjadi pertanyaan klasik anak-anak muda yang sudah berorientasi sebagai job-maker. Mereka sudah memiliki semangat untuk memulai bisnis, tetapi masih belum tahu bagaimana caranya. Mereka masih merasa samar mengenai langkah apa yang harus diambil.

Sebagai seorang mahasiswa yang juga baru saja terjun ke dalam dunia bisnis, saya merangkum sebuah jawaban sederhana terhadap pertanyaan tersebut: “Caranya SANGAT MUDAH!”

Ya, sangat mudah! Asalkan kita memiliki sesuatu untuk dijual, kita sudah bisa dengan sangat mudah menjadi seorang pebisnis. SANGAT MUDAH. Tempatkan sebuah papan yang bertuliskan ‘Rumah ini Dijual’ di depan rumah kita, maka pada saat itu juga kita sudah mulai menjadi seorang pebisnis. Kira-kira semudah itulah cara memulai sebuah bisnis.

Memastikan bahwa bisnis kita dapat bertahan dan berkembanglah yang menjadi isu penting dalam dunia bisnis. Dan untuk mencapai semua ini, perencanaan adalah kuncinya. Tapi sekali lagi perlu kita tegaskan, semua ini juga akan menjadi sangat mudah kita jalani bila kita mengetahui langkah-langkahnya.  Baca lebih lanjut

Sapi Ungu

“Mama, mama, lihat! Lihat! Ada sapi, Ma! Besar ya, Ma.” Kata Aldo yang sedang duduk di dalam mobil ketika sedang dalam perjalanan ke suatu tempat wisata.

“Oh, iya Aldo, tadi Mama nampak kok,” jawab Mamanya dengan raut wajah tidak tertarik, “Itu hanya ‘sapi biasa’ aja kok, Do. Tidak ada yang menarik. Lebih bagus kamu istirahat aja di dalam mobil, tidur sejenak. Kita 2 jam lagi baru nyampe.”

“Iya deh, Ma.” jawab Aldo, “tapi kalau nanti Mama lihat sapi yang warna lain seperti warna ungu, Mama bangunin Aldo ya, Ma.” Mama Aldo pun bingung dengan perkataan Aldo. Namun ia hanya mengiyakannya agar anaknya segera istirahat sampai mereka tiba di tempat wisata tujuan mereka.

Dari cerita di atas, mungkin pembaca akan bingung. Lho? Kok sapi ungu? Bukannya sapi hanya berwarna coklat atau hitam dan putih saja,ya?? Kenapa Aldo tidak minta dibangunkan kalau ada sapi coklat?

Baca lebih lanjut

Nikmati Sajalah

Let me guess, Anda baru saja memIlIkI harI yang penat. Koran yang tiba dI depan pIntu rumah Anda pagI InI basah kuyup karena tukang koran menaruhnya dI tempat yang salah, kemeja Anda belum dIgosok dan terlIhat sekusut muka nenek penjajah pIsang gorang dI sampIng pasar, kerjaan menumpuk, hIngga Anda pusIng apa saja yang sebenarnya pentIng, ada saja kerjaan Anda yang dIkomentarI supervIsor dI tempat kerja, jalanan becek karena hujan deras, anda basah kuyup, kekasIh Anda tIdak memberI kabar apapun seharIan, Anda lupa membelIkan makanan pesanan Ibu dI perjalanan pulang kerja, lalu Ibu pun merepetI Anda tIdak pedulI lagI padanya, sudah lama Anda tIdak hInggap dI keramaIan studIo XXI untuk menIkmatI deretan fIlm terbaru, Anda sudah melupakan hobI, Anda bIngung kenapa tulIsan dI paragraf InI huruf ‘I’nya besar semua. Dunia seolah tak bersahabat, ribut sekali!

 

@Motivagift

@Motivagift

Sudah cukupkah repetan Anda akan semua yang terjadi? Sekarang tertawalah. HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA! Baca lebih lanjut

Maju atau Mundur ?

Seperti kata pepatah, jika Anda tidak pernah gagal, berarti Anda tidak akan pernah sukses. Berapa kalikah Anda gagal untuk mencapai sebuah tujuan? Misalnya, ketika Anda masih bayi, berapa kalikah Anda terjatuh sebelum Anda benar-benar bisa berjalan? Atau ketika Anda duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, ketika pertama sekali Anda memegang sebuah pensil, berapa kalikah Anda menghapus tulisan Anda agar dapat menulis sebuah abjad atau angka?

Dan sekarang, berapa kalikah Anda gagal sebelum apa yang Anda inginkan menjadi milik Anda?

Pernahkah Anda berpikir, apa yang membuat Anda menjadi “Anda hari ini”? Betapa banyak kegagalan yang telah Anda alami tetapi Anda masih tetap berjuang sampai saat ini. Akan tetapi, di sisi lain, masih ada sebagian orang yang telah mengalami kegagalan justru lebih memilih untuk berhenti berjuang dan takut akan kegagalan jika dia bertindak lagi, takut jika dia akan terjatuh untuk kesekian kalinya.

Baca lebih lanjut

Jangan Ngarep !

“Saya sudah mencoba sepuluh kali. Gagal terus. Saya menyerah.” begitu kata si pesimis.

Jangan tertawa. Mungkin beberapa dari kita juga merasakan hal yang sama, termasuk kami. Rasa-rasanya sudah mengerahkan seluruh tenaga dan pikiran. Focus. udah. Motivasi, lebih dari cukup. Action, juga udah. Terus apa lagi? Kok masih gagal terus?

Ketekunan. Kesabaran. Kadang-kadang kita lupa memasukkannya.

Sepuluh kali gagal, apakah kita tekun untuk mencoba lagi? Berlatih lagi? Bukan sekedar “bangkit dari kegagalan”, tetapi juga bercermin dan memperbaiki diri. Belajar lagi. Mungin banyak hal yang belum kita ketahui. Dan mungkin juga hal itulah yang selama ini menjadi “batu penghalang” di dalam setiap perjalanan kita.

Berusaha sedikit, meminta banyak. Memberi satu, mengharapkan seribu. Mustahil!

Baru berusaha satu jam, mengharapkan hasil seperti yang dikerjakan orang lain selama seribu jam. Mustahil!

Mencoba sepuluh kali lalu menyerah. Tidak ada yang tahu bahwa di kali kesebelas kita mungkin akan berhasil. Berusaha, walaupun sedikit, tetapi tekun, sabar. Tidak buru-buru memetik hasilnya. Tetap sabar.

Sabar? Sampai kapan? Ya sampai kesabaran kita itu menghasilkan. Tekun mencoba, lagi dan lagi. Bukan hanya mencoba dan sekedar bangkit, tetapi juga memperbaiki diri, menyusun strategi, dan belajar dari orang lain.

Jadi, jangan NGAREP ya! Mungkin kita kurang tekun dan kurang sabar. Belum nyampe deh rezekinya. ^^

Semoga bermanfaat 🙂

Mission and Vision

Mungkin kita, khalayak umum, telah sering mendengarkan kedua kata itu didengungkan oleh banyak pihak, seperti oleh para motivator, pemimpin atau calon pemimpin, ataupun oleh teman-teman kita. Mari kita coba lihat terlebih dahulu pengertian visi dan misi itu sendiri.

–          Visi adalah sebuah gambaran mengenai tujuan dan cita-cita di masa depan yang harus dimiliki organisasi sebelum disusun rencana bagaimana mencapainya.

–          Misi adalah bagaimana untuk menghadirkan impian tadi menjadi kenyataan.

Mungkin terdapat banyak definisi atau pengertian lain tentang visi dan misi yang dikemukakan oleh berbagai tokoh, namun pada dasarnya semua definisi tersebut memiliki makna dan inti yang sama saja. Satu hal yang perlu diingat, setiap manusia yang telah dilahirkan dan telah mampu berpikir pasti telah memiliki visi dan misi mereka sendiri. Walaupun istilah ataupun cara pemikiran yang ada dalam pikiran setiap orang mengenai visi dan misi tentu berbeda-beda. Bahkan anak-anak yang masih berusia di bawah 10 tahun sendiri telah memiliki visi mereka sendiri, yang biasa mereka sebut sebagai “cita-cita di masa depan.”

Jadi, secara tidak kita sadari, sejak kecil kita telah memiliki visi kita sendiri. Walaupun pada saat itu tentu kita belum mengenal istilah visi. Namun, pasti saat itu kita tentu belum memikirkan tentang bagimana cara untuk mewujudkan visa kita itu sendiri, yang kemudian akan kita sebut sebagai misi. Seiring bertambahnya usia, manusia pasti akan memikirkan tentang bagaimana cara untuk mewujudkan visi mereka itu sendiri (misi). Karena tidak mungkin visi kita dapat terwujud dengan sendirinya, tanpa ada usaha atau daya upaya.

Baca lebih lanjut

“Waktu adalah Uang”

Frase di atas tentu merupakan frase atau kata mutiara yang sudah sering kita dengarkan di mana saja, kapan saja, dan dari siapa saja. Namun kemudian timbul pertanyaan, “Bagaimana waktu yang merupakan suatu hal yang abstrak bisa sama dengan uang, yang tentu saja bersifat nyata dan materiil?”

Namun sebenarnya, frase anonim tentang waktu (time) tersebut sebenarnya hanyalah untuk menggambarkan dan mendeskripsikan secara singkat betapa penting dan berharganya sang waktu. Kalau kita bertanya pada tokoh-tokoh yang terkemuka dan sukses, pasti jawaban mereka kurang lebih akan mirip dengan frase di atas tersebut.

–          Bill Gates, pendiri Microsoft, bisa menghasilkan $ 250 atau Rp. 2.250.000,00 ($ 1 = Rp. 9.000) setiap detiknya.

–          Perusahaan Google bisa menghasilkan $ 920 atau Rp. 8.280.000.00 ($ 1 = Rp. 9.000) setiap detiknya.

–          Usain Bolt berhasil memecahkan rekor dunia untuk pertama kalinya dalam lomba lari nomor 100 m, setelah mencatat waktu 9.72 detik, hanya berselisih 0.02 detik dari rekor lama yang dipegang oleh Asafa Powell.

Dari tiga contoh fakta di atas saja, kita sudah dapat mengetahui seberapa pentingnya waktu 1 detik saja bagi tokoh-tokoh tersebut, baik dalam bidang olahraga maupun wirausahawan.

Namun, pada faktanya kita (termasuk saya) sering kali menyia-yiakan waktu untuk hal-hal yang tak berguna. Bahkan kita sering lalai dalam penggunaan waktu kita. Oleh karena itu, kita perlu melakukan manajemen waktu (Time Management).

Baca lebih lanjut