Manage your Time, Manage your Life

Pada suatu pagi di hari minggu yang tenang, seorang pemuda terlihat sedang menikmati masa-masa santainya di teras rumah bersama ayahnya. Suara kicauan burung yang merdu, hembusan angin yang sepoi-sepoi, aroma udara pagi yang segar – semua ini benar-benar memberi kenyamanan bagi si pemuda yang kesehariannya selalu disesaki oleh sejumlah jadwal super padat. Pemandangan halaman rumah yang dipenuhi tanaman-tanaman hijau nan asri turut membuat pikiran si pemuda semakin tenang.

Sambil meniup-niup permukaan tehnya yang masih hangat, sang ayah memecah lamunan pemuda itu, “Riko, dalam seminggu ke depan, kira-kira masih ada gak waktu yang kamu sisihkan untuk duduk di kursi itu dan menikmati pagi yang segar seperti ini?”

“Sepertinya tidak,” jawab Riko setelah berpikir sejenak. “Aku punya banyak pekerjaan, dan semua jadwalnya sangat padat. Aku bahkan harus mengorbankan waktu kuliahku besok untuk menyelesaikan masalah kantor, dan hari minggu juga harus meeting dengan investor luar negeri.”

Baca lebih lanjut

Mamaku Seorang Pembohong!

Apakah istilah ‘Berbohong demi kebaikan’ itu benar adanya atau tidak? Silahkan Gifters menilainya sendiri setelah membaca ini.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : “Makanlah nak, aku tidak lapar.”

KEBOHONGAN PERTAMA IBU

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping aku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan.”

KEBOHONGAN KEDUA IBU

Baca lebih lanjut

Hati yang Sombong

Di sebuah desa di pedalaman kota akan diadakan pemilihan kepala daerah. Ini adalah pertama kalinya sejak peluasan cakupan pemerintah dimulai beberapa tahun silam. Pemilihan akan dilakukan oleh semua warga desa yang tinggal di lingkungan setempat. Beberapa minggu sebelum pemilihan dilaksanakan, segala persiapan telah dibuat sebaik mungkin. Calon-calon yang akan memimpin warga juga berasal dari desa yang sama. Alasannya tentu saja karena adanya statement  “pemerintahan dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat.” Seperti biasa pula, calon-calon tersebut bisa terpilih dari pengajuan orang lain ataupun atas pengajuan diri sendiri kalau cukup percaya diri.

Nah, sekarang kita ke intinya. Saat ini warga sedang heboh! Mereka antara bingung harus mencalonkan siapa atau memilih siapa. Pak Semar yang terkenal baik sudah pasti masuk pilihan. Belum lagi Pak Kopra yang masih muda dan segar, yang pastinya bisa memimpin dengan baik. Kendalanya, ada Pak Iringa yang juga kepengen jadi nominasi. Masalahnya adalah, tidak ada seorang pun yang mau mencalonkannya. Alasannya simpel. Dalam kesehariannya, Pak Iringa sangat Baca lebih lanjut

10 Versus 1

Alkisah di suatu desa di dataran rendah Cina, hiduplah sepasang suami istri dengan sepuluh anak mereka yang sering saling berselisih paham. Sebagai seorang kepala keluarga yang baik, sang ayah selalu berusaha mendidik kesepuluh anaknya dengan baik. Begitu juga dengan istrinya yang selalu berusaha membina keharmonisan keluarga besar mereka itu. Pada dasarnya, kehidupan sehari-hari mereka bisa dibilang cukup baik karena mereka memiliki sebidang tanah pertanian yang dikelola bersama. Namun, tetap saja mengurus sepuluh orang anak bukanlah hal yang mudah.

Semua anak mereka sering berselisih satu sama lain. Menbanding-bandingkan diri sendiri dengan yang lain, hingga akhirnya memicu pertengkaran. Hampir tidak ada kekompakkan sama sekali. Kalaupun mereka bekerja di ladang bersama-sama, itu semata-mata karena perintah orang tua mereka. Saat bekerja pun mereka selalu bekerja sendiri-sendiri, tidak pernah ada kerja sama yang terlihat.

Alhasil, tanah pertanian mereka tak pernah sekalipun memberi Baca lebih lanjut

Belajar dari Kura-Kura

Di sebuah desa yang jauh dari perkotaan, tersebutlah seorang anak, Rio, yang senang sekali berenang dan bermain bersama teman-temannya di laut dekat tempat tinggal mereka. Rio dan teman-temannya biasanya pergi berenang dan bermain setiap pulang sekolah. Mencari kerang dan kepiting kecil untuk disantap bersama-sama adalah kegiatan tambahan mereka setelah selesai bermain air di laut.

Pada suatu hari, mereka berlomba menangkap ikan di laut tersebut. Tiba-tiba saja, Rio terbawa arus sehingga hampir tenggelam. Dengan cepat teman-temannya segera menyelam ke dalam laut, dan syukurlah Rio berhasil diselamatkan.

Ketika dibawa ke tepi laut dengan napas yang terengah-engah dan disertai sedikit tangisan, Rio berkata, Baca lebih lanjut

Semakin Tinggi, Semakin Besar Tantangan !

Semakin tinggi gunung didaki, semakin parah jatuhnya.

Alkisah, di sebuah desa tinggallah seorang lelaki yang sudah berkeluarga dan dikaruniai 3 orang anak. Kehidupan mereka sangatlah sederhana, pendapatan sang suami pun hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak-anak mereka. Pekerjaan sang suami adalah menjadi seorang petani. Sesungguhnya lelaki ini tidak begitu suka denggan pekerjaannya. Karena selain harus berjemur matahari, ia juga harus bekerja dengan susah payah, tetapi mendapat upah yang tidak seberapa. Namun lelaki ini tidak punya pilihan lain sehingga ia harus mengorbankan kulitnya di sawah untuk bercocok tanam padi.

Suatu hari, lelaki ini sedang berjalan-jalan dan menemukan sebuah kertas di tengah jalan. Ternyata setelah dilihat-lihat, di dalam kertas itu tertera sejumlah nominal yang cukup besar. Rp 500.000.000!!!

Lelaki ini pun terkejut dan tidak tahu harus melakukan apa. Seketika saja ia pun merasa sangat bahagia karena Baca lebih lanjut

Gema !

Dikisahkanlah, seorang anak yang senang sekali bermain-main di pantai dan suka mendaki gunung. Pada suatu hari ketika si anak bermain-main bersama teman-temannya mendaki gunung di desanya, ia mendapati sebagian temannya tertinggal jauh di belakang karena si anak memang terkenal lebih lincah dari yang lainnya. Si anak itu pun kemudian berteriak, “Ayo cepat!”. Segera setelah itu, terdengar suara balasan, “Ayo cepaattt…!”

Si anak mulai kelihatan bingung. Ia kemudian bertanya dalam hati siapa yang membalasnya, padahal semua temannya tidak ada yang berteriak.

Si anak mencoba berteriak kembali, Baca lebih lanjut