Mission and Vision

Mungkin kita, khalayak umum, telah sering mendengarkan kedua kata itu didengungkan oleh banyak pihak, seperti oleh para motivator, pemimpin atau calon pemimpin, ataupun oleh teman-teman kita. Mari kita coba lihat terlebih dahulu pengertian visi dan misi itu sendiri.

–          Visi adalah sebuah gambaran mengenai tujuan dan cita-cita di masa depan yang harus dimiliki organisasi sebelum disusun rencana bagaimana mencapainya.

–          Misi adalah bagaimana untuk menghadirkan impian tadi menjadi kenyataan.

Mungkin terdapat banyak definisi atau pengertian lain tentang visi dan misi yang dikemukakan oleh berbagai tokoh, namun pada dasarnya semua definisi tersebut memiliki makna dan inti yang sama saja. Satu hal yang perlu diingat, setiap manusia yang telah dilahirkan dan telah mampu berpikir pasti telah memiliki visi dan misi mereka sendiri. Walaupun istilah ataupun cara pemikiran yang ada dalam pikiran setiap orang mengenai visi dan misi tentu berbeda-beda. Bahkan anak-anak yang masih berusia di bawah 10 tahun sendiri telah memiliki visi mereka sendiri, yang biasa mereka sebut sebagai “cita-cita di masa depan.”

Jadi, secara tidak kita sadari, sejak kecil kita telah memiliki visi kita sendiri. Walaupun pada saat itu tentu kita belum mengenal istilah visi. Namun, pasti saat itu kita tentu belum memikirkan tentang bagimana cara untuk mewujudkan visa kita itu sendiri, yang kemudian akan kita sebut sebagai misi. Seiring bertambahnya usia, manusia pasti akan memikirkan tentang bagaimana cara untuk mewujudkan visi mereka itu sendiri (misi). Karena tidak mungkin visi kita dapat terwujud dengan sendirinya, tanpa ada usaha atau daya upaya.

Jadi, sejak lahirnya visi dalam pikiran dan niat kita hingga suatu saat tercapainya visi kita itu, tentu akan memerlukan proses dan waktu yang tidak pendek (singkat). Hal ini tentu kemudian akan menimbulkan pertanyaan yang mungkin tidak terpikirkan oleh orang-orang yang bervisi tersebut, yaitu : Apakah usaha dan tindakan kita selama ini kelak akan bisa mewujudkan visi yang kita impikan selama ini?

Tentu saja, kebanyakan orang belum sempat memikirkan jawaban untuk pertanyaan di atas tersebut. Sebab kebanyakan orang hanya bisa bervisi jauh ke depan tanpa pernah berpikir berapakah jarak antara mereka sekarang dengan visi yang mereka canangkan selama ini. Mereka kebanyakan, mungkin, terbuai dengan indahnya kehidupan duniawi ini dan menjalaninya begitu saja tanpa memikirkan ke depannya bagaimana.

Contohnya seperti seseorang yang bervisi untuk menjadi orang yang sukses dan kaya di masa depannya. Namun pada masa mudanya sekarang, dia malah terbuai untuk hidup dengan gaya konsumtif tanpa memiliki pikiran untuk menabung ataupun melakukan investasi. Jadi kalau begitu, apakah mungkin orang tersebut dapat menjadi orang yang sukses dan kaya di masa depannya? (Terlepas dari apakah orang ini anak orang kaya atau orang miskin).

Setelah membaca contoh fiktif di atas, mungkin saja merupakan cerminan anak muda dewasa ini, tentu kita akan menjawab mustahil bagi orang tersebut untuk mecapai cita-citanya tersebut. Hal ini tentu sangat ironis mengingat setiap orang sejak kecil dan telah bisa berpikir pasti memiliki visi yang baik dan luhur, namun pada akhirnya tidak bisa mewujudkan visinya tersebut. Sebab tidak mungkin ada orang yang bervisi untuk menjadi koruptor, pembunuh, pencuri, ataupun pelaku kriminal lainnya. Alangkah bahagianya dan sempurnanya dunia ini apabila setiap orang bisa mewujudkan visi mereka itu sendiri, sehingga di dunia ini tidak akan ada orang yang hidup menderita lagi.

Namun, pada kenyataannya banyak orang yang saat ini hidup menderita, baik karena miskin, bangkrut usahanya, dipenjara, ataupun hal-hal lainnya. Hal ini tentu menunjukkan bahwa bervisi itu sangat mudah, tetapi mewujudkannya merupakan hal yang sangat sulit, bahkan bukan tidak mungkin untuk menemui kegagalan. Akhirnya akan muncul pertanyaan baru lagi, Apakah tindakan yang harus dilakukan untuk bisa mencapai visi kita?

Tentu jawaban untuk pertanyaan di atas adalah tergantung pada misi kita sendiri dalam mewujudkan visi kita tersebut. Namun satu hal yang perlu diingat ialah mencanangkan misi kita juga sama gampangnya dengan bervisi, tapi melaksanakannya yang sangat sulit dan tidak mudah. Hal ini tentu akan mengembalikan kita pada pertanyaan kita yang pertama, yaitu Apakah usaha dan tindakan kita selama ini kelak akan bisa mewujudkan visi yang kita impikan selama ini?

Akhirnya, satu-satunya jawaban yang bisa diberikan untuk pertanyaan di atas adalah Evaluasi. Evaluasi merupakan satu-satunya solusi untuk persoalan yang telah dikemukakan di atas, yaitu mudahnya bervisi dan bermisi tapi sulit untuk mewujudkan keduanya (visi dan misi). Setiap orang tidak pernah terpikir untuk memikirkan kembali semua tindakan mereka selama ini, dan apakah dengan semua tindakan mereka selama ini akan bisa mendukung tercapainya visi mereka. Namun, satu hal yang perlu dicatat ialah evaluasi tidak dapat hanya dilakukan sekali  dua kali saja, tetapi harus dilakukan secara berkala, bahkan sesudah tercapainya visi kita itu sendiri. Selain itu, tindakan evaluasi juga memerlukan suatu komitmen yang kuat dari diri kita sendiri. Jadi kita sendiri harus bertindak tegas terhadap diri kita sendiri apabila kita telah melakukan suatu tindakan yang menurut evaluasi kita sendiri sangat merugikan dan menghambat tercapainya visi kita.

Di bawah ini mungkin saran-saran yang bisa coba dilakukan dalam melakukan evaluasi terhadap diri kita sendiri dalam rangka mewujudkan visi dan misi kita sendiri :

1. Timing

Untuk permulaan, mungkin kita bisa belajar melakukan evaluasi untuk jangkan waktu yang pendek saja, seperti dalam sehari. Mungkin sebelum tidur atau sewaktu beristirahat pada malam hari, kita dapat melakukan evaluasi terhadap apa saja yang telah kita lakukan sejak bangun pagi hingga saat akan tidur malam. Untuk kemudian apabila telah berhasil melakukan evaluasi harian secara berkala, kita dapat mencoba melakukan evaluasi untuk jangka waktu yang lebih panjang dan lama, seperti untuk sebulan, beberapa bulan, ataupun setahun.

2. Tumbuhkan komitmen yang kuat.

Seperti sewaktu pacaran atau melakukan kebanyakan tindakan, evaluasi yang kita lakukan juga memerlukan suatu komitmen yang kuat dari kita snediri. Seperti yang telah disebutkan di atas pada sebelumnya, evaluasi tidak hanya bisa dilakukan untuk satu atau dua kali saja. Akan tetapi, harus dilakukan secara berkala hingga bahkan sesudah tercapainya visi dan misi kita tersebut.

3. Tumbuhkan rasa bertanggung jawab.

Merupakan hal yang sangat mustahil apabila dalam setiap evaluasi yang kita lakukan tidak terdapat kesalahan atau kekeliruan dati tindakan kita selama jangka waktu yang kita tentukan snediri. Sebab setiap manusia tidak ungkin terlepas dari kesalahan. Oleh karenanya, kita harus membiasakan diri untuk mengakui dan mencegah terulangnya kembali tindakan kita yang salah tersebut.

Iklan

Mari Berdiskusi, dear GIFTed people :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s