Manage your Time, Manage your Life

Pada suatu pagi di hari minggu yang tenang, seorang pemuda terlihat sedang menikmati masa-masa santainya di teras rumah bersama ayahnya. Suara kicauan burung yang merdu, hembusan angin yang sepoi-sepoi, aroma udara pagi yang segar – semua ini benar-benar memberi kenyamanan bagi si pemuda yang kesehariannya selalu disesaki oleh sejumlah jadwal super padat. Pemandangan halaman rumah yang dipenuhi tanaman-tanaman hijau nan asri turut membuat pikiran si pemuda semakin tenang.

Sambil meniup-niup permukaan tehnya yang masih hangat, sang ayah memecah lamunan pemuda itu, “Riko, dalam seminggu ke depan, kira-kira masih ada gak waktu yang kamu sisihkan untuk duduk di kursi itu dan menikmati pagi yang segar seperti ini?”

“Sepertinya tidak,” jawab Riko setelah berpikir sejenak. “Aku punya banyak pekerjaan, dan semua jadwalnya sangat padat. Aku bahkan harus mengorbankan waktu kuliahku besok untuk menyelesaikan masalah kantor, dan hari minggu juga harus meeting dengan investor luar negeri.”

“Bagaimana kalau dalam sebulan ke depan? Ada waktu istirahat gak, kira-kira?

Riko menggeleng, “Tidak juga. Bisnis pribadiku banyak yang sedang mengalami masalah, jadi aku harus mengurusnya, bahkan di hari minggu.”

Gimana kalau dalam setahun ke depan?”

“Entahlah…” Riko menghela nafas panjang. “Mungkin ada, ketika memasuki tahun baru. Tapi aku juga gak berani memastikan. Banyak sekali masalah yang muncul dalam tahun ini. Rasanya aku ingin sekali memiliki waktu lebih dari 24 jam dalam sehari untuk membereskan semuanya.”

“Ayah prihatin melihat keadaanmu seperti ini,” sang ayah berbicara sambil menatap jauh ke langit, seolah ia sedang menerawang masa depan.

Riko bingung mendengar ucapan ayahnya tersebut. Selama ini Riko merasa dirinya baik-baik saja. Kesehatannya normal, dan dengan kesibukannya yang luar biasa ini, Riko justru sudah berhasil membeli rumah dan mobil sendiri berkat jerih payahnya selama ini. Lalu kenapa ayahnya harus merasa prihatin?

“Aku tidak mengerti maksud ayah. Apakah ayah tidak suka melihat anakmu ini sukses?”

“Selama satu hari ini, kamu gak ada kerjaan apa-apa, ‘kan?” sang ayah lalu masuk ke dalam rumah untuk mengambil beberapa butir telur setelah mendapat jawaban berupa anggukan dari Riko. “Antar dua butir telur ini kepada tante Yanti, dua butir kepada tante Lili, dan dua butir kepada tante Dina. Kira-kira kamu butuh waktu berapa lama untuk antar semua ini ke rumah mereka masing-masing?”

Riko menjawab dengan kebingungan, “Sekitar dua jam. Memangnya untuk apa ini?”

“Oke. Sekarang kamu pergi antar semua ini kepada mereka. Tapi, ayah mau kamu selesaikan tugas ini dalam waktu satu jam saja. Jangan banyak tanya lagi. Pergilah sekarang!”

Dengan pikiran yang masih penuh tanda tanya, Riko akhirnya terpaksa melaksanakan perintah ayahnya. Dia buru-buru meraih plastik berisi telur yang sedang digenggam ayahnya, dan langsung berlari menuju sepeda motornya.

Satu setengah jam berlalu. Riko akhirnya kembali dengan wajah kewalahan dan nafas yang agak tersengal-sengal.

“Bagaimana perasaanmu?” ayah menyambut kepulangan Riko dengan tersenyum lebar.

“Mustahil bisa satu jam!” Riko menggeleng dengan sedikit amarah.

“Itulah dirimu… Itulah yang membuat ayah merasa kasihan padamu,” sang ayah meneguk tehnya lalu melanjutkan, “Tugas mengantar telur-telur tadi seharusnya butuh waktu selama 2 jam, tapi kamu memaksakannya untuk selesai dalam waktu yang lebih singkat. Sama seperti kehidupanmu saat ini, semua aktivitasmu seharusnya butuh waktu lebih dari 24 jam untuk diselesaikan, tapi kamu memaksakannya untuk selesai dalam waktu kurang dari sehari.”

“Bukankah itu bagus, Yah? Aku bisa melakukan semua kegiatanku dalam waktu yang lebih singkat daripada seharusnya.”

“Bagaimana keadaan telur-telur itu ketika sampai di tangan bibi-bibimu?”

Dengan agak malu-malu, Riko memberi jawaban, “Emmm… Ada beberapa yang pecah.”

“Lihatlah dirimu,” ayah tertawa kecil. “Kamu memang berhasil mengatur waktumu dengan sangat maksimal, jadwal-jadwalmu sangat padat. Tapi lihatlah, banyak masalah yang kamu ciptakan karena semua kepadatan ini. Kamu tidak benar-benar maksimal melakukan semua kegiatanmu. Kamu terlalu terburu-buru, sehingga kamu tidak memperhatikan kinerjamu. Dan pada akhirnya, banyak hasil kerjaanmu yang retak-retak seperti telur tadi.”

Riko tidak bersuara mencerna setiap patah kata yang diucapkan ayahnya.

“Ayah yakin kamu tadi juga ngebut-ngebutan ketika mengantar semua telur itu. Kamu mempertaruhkan nyawa dirimu sendiri dengan semua kepadatanmu ini,” ayahnya melanjutkan. “Kamu terlalu sibuk, kamu terlalu terburu-buru, kamu terlalu mementingkan hasil dan menghiraukan kesehatanmu sendiri. Untuk apa kamu bisa menghasilkan banyak uang sekarang kalau nantinya semua uang itu hanya akan digunakan untuk membayar pengobatan dirimu sendiri akibat penyakit-penyakit yang menggerogoti tubuhmu?!”.

Setelah lama terdiam, Riko akhirnya mengangguk pelan, “Ayah benar. Jujur saja, aku memang jenuh dengan semua jadwalku yang padat ini.”

“Sebenarnya ada banyak keindahan di sepanjang jalan menuju rumah bibi-bibimu, tapi apakah kamu sempat menikmatinya tadi?”

Riko menggeleng dengan lesu.

“Manajemen waktu yang kamu lakukan selama ini memang cukup bagus, kamu bisa memanfaatkan semua waktumu dengan maksimal, tapi kamu melupakan satu hal yang sangat penting dalam hal manajemen waktu. Kamu lupa untuk memasukkan ‘waktu istirahat’ di tengah-tengah semua jadwalmu yang padat. Kamu lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kehidupanmu ini.”

“Aku bersyukur bisa menikmati pagi ini bersama ayah,” Riko tampak puas dengan semua penjelasan ayahnya. “Aku berjanji akan mengatur semua jadwal-jadwalku, dan aku akan pastikan minggu depan aku bisa menikmati secangkir teh bersama ayah lagi.”

“Hahaha… Itu terserah kamu, Nak… Keputusan ada di tanganmu,” ayahnya tersenyum lebar sambil mendekatkan cangkirnya ke mulutnya lagi. “Sekarang duduklah kembali, dan nikmati sisa pagi yang menentramkan hati ini.”

Iklan

Mari Berdiskusi, dear GIFTed people :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s