Mamaku Seorang Pembohong!

Apakah istilah ‘Berbohong demi kebaikan’ itu benar adanya atau tidak? Silahkan Gifters menilainya sendiri setelah membaca ini.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : “Makanlah nak, aku tidak lapar.”

KEBOHONGAN PERTAMA IBU

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping aku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan.”

KEBOHONGAN KEDUA IBU

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata : “Ibu, tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata : “Cepatlah tidur nak, aku tidak capek.”

KEBOHONGAN KETIGA IBU

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : “Minumlah nak, aku tidak haus!”

KEBOHONGAN 
KEEMPAT IBU

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta.”

KEBOHONGAN KELIMA IBU

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata: “Saya punya duit lebih dari cukup. Kalian lebih membutuhkannya.”

KEBOHONGAN KEENAM IBU

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku: “Aku tidak terbiasa.”

KEBOHONGAN KETUJUH IBU

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata: “Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan”

KEBOHONGAN KEDELAPAN IBU

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

Ibu kita semua pasti pernah melakukan kebohongan terhadap kita, meskipun cuma satu kali. Tujuan Ibu kita membohongi kita juga bisa dipastikan adalah untuk memberi yang terbaik untuk kita. Ibu kita tidak mungkin membohongi kita dengan maksud ingin merugikan kita. Tidak Mungkin!! Sekarang coba tanyakan pada diri kita sendiri yang juga pasti pernah mengatakan kebohongan, apakah tujuan kita membohongi Ibu kita itu adalah untuk memberi yang terbaik juga untuknya? Atau justru malah membuat Ibu kita menjadi sedih, kecewa, dan lain sebagainya?

Sungguh sangat disayangkan bagi kita yang membohongi Ibu kita dengan alasan yang tidak terpuji. Coba pikirkan kembali, kapan saja kita pernah membohongi Ibu kita. Kemudian renungkanlah sejenak. Bagaimana perasaan kita saat itu, ketika kita baru saja membohongi Ibu kita? Ya, perasaan tidak nyaman atau gelisah-lah yang muncul pastinya. Baik sebelum, ketika, dan sesudah membohongi Ibu, perasaan itu akan selalu melekat dalam diri kita.

Bagaimana kita menghilangkan perasaan yang sudah terlanjur muncul tersebut? Permintaan maaf-lah salah satu jawaban yang paling tepat. Tidak pernah ada kata Terlambat untuk mengucapkan permintaan maaf kita terhadap Ibu. Mungkin saja Ibu kita sudah memaafkan kita sebelum kita sempat menyatakan permintaan maaf kita, tapi akan lebih bermakna bila kita menyatakannya kembali untuk membuat hatinya lebih Bahagia.

SELAMAT HARI IBU

DUNIA TIDAK AKAN BISA SEISTIMEWA INI TANPA KEHADIRAN IBU

Iklan

Mari Berdiskusi, dear GIFTed people :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s