Semakin Tinggi, Semakin Besar Tantangan !

Semakin tinggi gunung didaki, semakin parah jatuhnya.

Alkisah, di sebuah desa tinggallah seorang lelaki yang sudah berkeluarga dan dikaruniai 3 orang anak. Kehidupan mereka sangatlah sederhana, pendapatan sang suami pun hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak-anak mereka. Pekerjaan sang suami adalah menjadi seorang petani. Sesungguhnya lelaki ini tidak begitu suka denggan pekerjaannya. Karena selain harus berjemur matahari, ia juga harus bekerja dengan susah payah, tetapi mendapat upah yang tidak seberapa. Namun lelaki ini tidak punya pilihan lain sehingga ia harus mengorbankan kulitnya di sawah untuk bercocok tanam padi.

Suatu hari, lelaki ini sedang berjalan-jalan dan menemukan sebuah kertas di tengah jalan. Ternyata setelah dilihat-lihat, di dalam kertas itu tertera sejumlah nominal yang cukup besar. Rp 500.000.000!!!

Lelaki ini pun terkejut dan tidak tahu harus melakukan apa. Seketika saja ia pun merasa sangat bahagia karena merasa telah mendapat sebuah keberuntungan yang amat sangat besar. Sebuah mimpi menjadi orang kaya akhirnya bisa menjadi kenyataan. Ia berkata dalam hati : “Mengapa di tengah jalan begini ada cek yang berisi jumlah besar? Mungkin ini terjatuh dari tangan seorang kaya raya. Tetapi tak apalah, orang itu sudah kaya, tidak ada salahnya kalau saya mengambilnya.” Ia pun segera pulang untuk memberitahukan kabar baik ini kepada keluarganya.

Sepulang ke rumah, ia pun memberitahukan kabar tersebut kepada istrinya. Istrinya pun merasa bahagia. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah rumah, pindah ke rumah yang lebih mewah dibandingkan dengan rumah yang mereka tempati sekarang. lelaki ini juga sudah meninggalkan profesinya karena menurutnya, untuk apa bekerja sebagai petani dan harus bekerja dengan susah payah, toh ia sudah memiliki banyak uang? Pertanyaan itulah yang selalu terlintas di pikirannya setiap ia ingin mencoba untuk mencari pekerjaan baru yang lebih baik.

Sejak saat itu, ia menjadi seorang lelaki pemalas. Hidupnya hanya digunakan untuk berfoya-foya dan menghabiskan uang yang ia dapat itu. Istrinya sudah mencoba menasihatinya berkali-kali, tetapi selalu diabaikan olehnya.

Suatu hari, sewaktu suami sedang tidak berada di rumah, istrinya pun selalu merenungkan nasib suaminya. Ia sudah tidak tahan dengan sikap suaminya yang selalu bermalas-malasan dan hidupnya selalu bergantung pada apa yang sudah ada. Ia pun pulang kampung ke rumah orang tuanya dengan membawa serta ketiga anaknya tanpa berkata sepatah katapun kepada suaminya.

Suaminya yang kini hidup sendiri, sangat ditakuti oleh orang-orang desa karena ia suka semena-mena terhadap penduduk desa. Ia sudah terbiasa hidup enak dan dihormati oleh penduduk desa yang sebenarnya takut akan dirinya itu. Setiap kali jika ada orang yang mencoba menasihati dia, dia selalu bersikap acuh tak acuh. Dia tidak menyadari bahwa uang yang tidak seberapa yang ia dapatkan di tengah jalan itu tidak bisa menjamin kelangsungan hidupnya selamanya.

Keesokan harinya, lelaki itu pun ingin mengambil uang. Betapa terkejutnya ia setelah melihat uang simpanannya sudah mulai menipis. Ia pun kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia pun pasrah dan terus melanjutkan hidupnya yang tidak bertujuan. Tetapi, ia tidak mau lagi hidup menderita seperti dulu. Ia ingin hidup bahagia dan dihormati orang-orang. Tetapi apa boleh buat, takdir berkehendak lain. Karena sifatnya yang malas-malasan dan tidak mau berusaha, ia pun kembali seperti dulu. Ia tidak mempunyai uang lagi dan akhirnya hidup menderita, bahkan lebih menderita dari keadaannya yang dulu, karena orang-orang sudah tidak mempedulikannya lagi. Ia hidup menderita, sakit-sakitan dan akhirnya menjadi gila.

“Semakin kaya dan tinggi kedudukan seseorang, semakin sakit ketika ia jatuh atau kehilangan kedudukannya. Karena terbiasa hidup enak dan dihormati, ia tidak siap untuk menderita, baik secara fisik maupun secara psikis.”

Iklan

Mari Berdiskusi, dear GIFTed people :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s