Hati yang Sombong

Di sebuah desa di pedalaman kota akan diadakan pemilihan kepala daerah. Ini adalah pertama kalinya sejak peluasan cakupan pemerintah dimulai beberapa tahun silam. Pemilihan akan dilakukan oleh semua warga desa yang tinggal di lingkungan setempat. Beberapa minggu sebelum pemilihan dilaksanakan, segala persiapan telah dibuat sebaik mungkin. Calon-calon yang akan memimpin warga juga berasal dari desa yang sama. Alasannya tentu saja karena adanya statement  “pemerintahan dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat.” Seperti biasa pula, calon-calon tersebut bisa terpilih dari pengajuan orang lain ataupun atas pengajuan diri sendiri kalau cukup percaya diri.

Nah, sekarang kita ke intinya. Saat ini warga sedang heboh! Mereka antara bingung harus mencalonkan siapa atau memilih siapa. Pak Semar yang terkenal baik sudah pasti masuk pilihan. Belum lagi Pak Kopra yang masih muda dan segar, yang pastinya bisa memimpin dengan baik. Kendalanya, ada Pak Iringa yang juga kepengen jadi nominasi. Masalahnya adalah, tidak ada seorang pun yang mau mencalonkannya. Alasannya simpel. Dalam kesehariannya, Pak Iringa sangat pelit. Pernah suatu kali saat pertanian di desa mereka terkena hama yang berakhir dengan gagal panen dan kelaparan di mana-mana, namun Pak Iringa menolak semua orang yang datang mengemis padanya. Katanya beras yang dibelinya dari kota itu mahal dan tidak pantas untuk masuk ke perut rakyat jelata seperti mereka. Keterlaluan kan? Beda dengan Pak Kopra yang langsung turun tangan meminta sumbangan beras dari kota. Atau Pak Semar yang langsung membagikan persedian berasnya untuk warga. Jadi jelas saja, hanya orang bodoh yang bakal memasukkan nama Pak Iringa ke daftar nominasi.

Namun Pak Iringa adalah Pak Iringa. Sebagai orang kaya dia tidak mau kalah. “Masa sih, aku harus kalah sama wong deso

 yang gak ngerti politik itu?” Pak Iringa bergumam dalam hatinya. Padahal sebenarnya dia juga tidak mengerti apa arti politik itu. Maklum, namanya juga wong deso, pedalaman lagi. Hi..Hi.. Dia lalu mencalonkan diri sendiri dan membayar beberapa orang untuk dijadikan pendukungnya. Dasar uang, siapa sih yang gak mau.

Masa-masa kampanye diwarnai dengan aksi-aksi yang tidak biasa. Pak Iringa-lah calon kepala daerah yang paling gencar melaksanakan aksinya. Dia mendatangi rumah masing-masing warga sambil membagi-bagi uang. Meskipun cuma tiga sampai lima ribu, uang tetap uang dan uang akan tetap berbicara. Yah, siapa tahu?

Sementara itu, Pak Komar mengadakan “Lari Pagi Sehat Bersama Pak Komar” sebagai aksi kampanyenya. Padahal kalau dipikir-pikir, lari pagi tanpa Pak Komar juga sehat kok. He..He.. Yang terakhir, Pak Semar, adalah yang paling biasa-biasa saja. Dia tidak menunjukkan gelagat yang ‘lebay’ layaknya Pak Iringa dan Pak Komar. Aktivitas sehari-harinya jalan terus. Mulai dari lari pagi dengan lusinan tetangga-tetangganya, gotong royong membersihkan lingkungan tiap hari Minggu, sampai ronda malam. Benar-benar teladan yang baik. Itulah mengapa banyak orang yang berjanji akan ‘mencontreng’ dirinya saat pemilihan nanti. Pak Semar hanya senyum-senyum saja.

Detik-detik pemilihan pun sampailah. Pak Iringa sangat senang. Dia yakin sekali akan kemenangannya karena dia percaya kalau lebih dari setengah warga desa telah berhasil dia perdaya. Bahkan diam-diam dia telah menyiapkan pesta untuk menyambut keberhasilannya. Gila!

Sementara Pak Komar yang duduk di tengah-tengah ruangan terlihat komat-kamit membaca doa, entah doa apapun itu, yang jelas dia tampak gugup dan tidak tenang. Pak Semar datang paling akhir laksana tokoh utama yang memang sudah ditakdirkan selalu kesiangan.

Pemilihan pun dimulai. Warga dari seantero desa datang berbondong-bondong dalam balutan sarung-sarung mereka untuk memilih calon yang rasanya ‘nempel’ di hati masing-masing. Tidak dibutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan proses pemilihan karena jumlah warga di desa itu memang tidak terlalu banyak. Ditambah lagi cukup banyak yang golput tanpa alasan yang jelas.

Yang terakhir memilih adalah ketiga calon itu sendiri. Pak Iringa dengan angkuhnya memilih Pak Semar, bukan dirinya sendiri. Loh, kok begitu? Ya, sebetulnya karena menurutnya tidak akan ada yang akan memilih Pak Semar, jadi tidak ada salahnya memberinya 1 suara saja. Wah, sombong sekali!

Sekarang saatnya penghitungan suara. Suasana jadi hening. Seseorang ditugaskan untuk membuka surat suara yang sudah dicontreng dan menghitung jumlah suara yang diperoleh masing-masing calon. Semar, Kopra, Semar, Kopra, Iringa, Iringa, Iringa, Semar, Semar, Iringa, dan seterusnya. Hingga akhirnya hasilnya pun diumumkan. Ta daa! Pak Semar menduduki kursi pemenang dengan 71 suara, di tempat kedua secara tak terduga ditempati oleh Pak Iringa dengan 70 suara dan posisi ketiga didiami Pak Kopra yang kini terkulai lemas. Semua warga buru-buru menyelamati Pak Semar. Sayangnya, ada orang yang tidak senang. Dia adalah Pak Iringa.

“Huh, kenapa tadi aku harus memilih Semar dan bukan diriku sendiri. Kalau saja aku tidak sebodoh itu tadi. Ini tidak adil, aku harus protes!” gerutu Pak Iringa.

“Perhatian semuanya! Ini tidak adil! Tadi saya salah mencontreng karena tidak pakai kacamata. Seharusnya saya yang berhak atas semua ini. Pemilihan harus diulang!” teriak Pak Iringa sekeras mungkin. Warga jadi makin heboh sampai akhirnya seseorang angkat bicara. Oh, ternyata dia pendukung Pak semar.

“Kamu jangan sombong Pak Iringa. Tak tahukah kamu siapa yang menempatkanmu di posisi kedua? Pak Semar-lah yang melakukannya. Dia menyuruh kami untuk memilihmu saja karena menilai kamu mampu memimpin desa kita ini!”

“Huh….. Dasar kampungan! Pergi sana!”

Pak Iringa malu sekali. Sangkin malunya dia terpaksa mengurungkan niatnya untuk melontarkan kata-kata balasan.

“Sudahlah, maafkan beliau. Hati manusia harusnya lebih sering digunakan untuk memaafkan dan bukan membenci,” ucap Pak Semar mencoba mengakhiri kericuhan.

Pak Iringa malu sekali. Dia dan istrinya lalu buru-buru pulang. Di perjalanan istrinya bertanya, “Tapi, Pak. Bukannya Bapak sudah tidak pakai kacamata lagi? Bapak kan sudah pakai lens-lens apa tuh?”

“Kontak lens!!” jawab Pak Iringa dengan ketus.

Begitulah akhirnya pemilihan kepala desa itu berjalan dengan baik. Semua warga termasuk Pak Iringa hidup dengan damai di bawah pimpian Pak Semar sebagai kepala desa.

“Kesombongan hanya akan membawa Anda ke Malapetaka. Waspadalah! Waspadalah!”

Iklan

Mari Berdiskusi, dear GIFTed people :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s