10 Versus 1

Alkisah di suatu desa di dataran rendah Cina, hiduplah sepasang suami istri dengan sepuluh anak mereka yang sering saling berselisih paham. Sebagai seorang kepala keluarga yang baik, sang ayah selalu berusaha mendidik kesepuluh anaknya dengan baik. Begitu juga dengan istrinya yang selalu berusaha membina keharmonisan keluarga besar mereka itu. Pada dasarnya, kehidupan sehari-hari mereka bisa dibilang cukup baik karena mereka memiliki sebidang tanah pertanian yang dikelola bersama. Namun, tetap saja mengurus sepuluh orang anak bukanlah hal yang mudah.

Semua anak mereka sering berselisih satu sama lain. Menbanding-bandingkan diri sendiri dengan yang lain, hingga akhirnya memicu pertengkaran. Hampir tidak ada kekompakkan sama sekali. Kalaupun mereka bekerja di ladang bersama-sama, itu semata-mata karena perintah orang tua mereka. Saat bekerja pun mereka selalu bekerja sendiri-sendiri, tidak pernah ada kerja sama yang terlihat.

Alhasil, tanah pertanian mereka tak pernah sekalipun memberi hasil yang memuaskan. Bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka selama bertahun-tahun pun sudah bisa dikatakan

 beruntung. Sampai suatu saat, sang ayah mendapat ide dan mengumpulkan kesepuluh anaknya dalam acara makan malam bersama. Sang ayah mengambil sebuah sumpit kayu, lalu mematahkannya dengan mudah. Dia juga meminta semua anak-anaknya melakukan hal yang sama. Semuanya berhasil melakukannya bahkan dalam kesempatan pertama mereka.

Sang ayah kemudian mengambil 10 buah sumpit kayu dan mengikatnya menjadi satu. Dia mengoper kumpulan sumpit itu dan menyuruh masing-masing anaknya mencoba melakukan hal yang sama dengan apa yang telah mereka lakukan sebelumnya. Tak ada satu orang pun di antara mereka yang bisa mematahkannya (termasuk Anda juga, mungkin). Selanjutnya, sang ayah pun menjelaskan maksud sebenarnya dari apa yang telah mereka lakukan.

“Anak-anakku, kesepuluh sumpit ini seperti kalian. Saat kalian bersatu, rintangan atau kesulitan apapun pasti akan terlewati. Akan tetapi, saat kalian tercerai-berai, kalian umpamanya sumpit kayu yang hanya berdiri sendiri, begitu rapuh dan mudah dipatahkan,” Mendengar penjelasan ayah mereka, kesepuluh anak itu mengangguk-angguk tanda mengerti.

Sejak saat itu, mereka bersepuluh yang telah tersadarkan mencoba bekerja sama mengolah lahan keluarga mereka bersama-sama. Mereka mulai memupuk sikap kerja sama dan saling tolong menolong di dalam keluarga mereka. Keuangan keluarga itu pun membaik hingga akhirnya mereka bisa  membeli rumah baru untuk kedua orang tua mereka.

“Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh!”

Iklan

Mari Berdiskusi, dear GIFTed people :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s